Rabu, 25 November 2009

MERENUNGKAN REALITAS BERSAMA SCHUMACHER

Paper Diskusi:
Kajian Jumat Malam Paramadina,
13 November 2009

MERENUNGKAN REALITAS BERSAMA SCHUMACHER
Oleh: Fauzan Hasanuddin
Apa yang ditawarkan oleh Schumacher dalam Keluar dari Kemelut adalah sebuah “petunjuk” dalam menghadapi hidup. Meski sains dan modernitas telah semakin memanjakan kita, tapi tidak menyelesaikan persoalan mendasar kita: Apakah artinya kita hidup di dunia? Terdapat empat hal penting yang hendak ia bagi dalam buku tersebut: 1) tentang dunia atau realitas, 2) tentang Manusia, 3) tentang relasi Manusia dan Dunia, dan 4) tentang hidup. Namun, tulisan ini hanya akan membahas bagian pertama dari keempat “Kebenaran Besar” tersebut; “Dunia atau Realitas”.
Memahami dunia di mana kita berada sangatlah penting agar kita tidak tersesat dalam memposisikan diri kita di dalamnya. Sebuah kajian tentang realitas dikenal sebagai kosmologi. Ketika kajian itu menyentuh struktur dasarnya, ini disebut ontologi. Bagi Schumacher, realitas ini tersusun dari empat eksistensi: benda, tumbuhan, hewan, dan manusia. Keempat eksistensi tersebut berbeda tidak hanya secara jenis, melainkan juga derajatnya. Artinya, secara kwalitatif eksistensi benda lebih rendah dari tumbuhan; eksistensi tumbuhan lebih rendah dari hewan; dan eksistensi hewan lebih rendah dari manusia. Secara tidak langsung, dia juga mengatakan bahwa pada diri manusialah eksistensi tersebut mencapai puncaknya.
Sebelum membahas “Yang Puncak” dari eksistensi, terlebih dahulu kita bahas eksistensi-eksistensi yang lebih rendah dari padanya.
1. Benda
Kajian atas “benda” dalam artian materi adalah fenomena modern. Di zaman purba, manusia memperlakukan benda bukan sebagai materi, melainkan dalam dirinya terdapat yang ruhaniah. Tidak adanya pembedaan antara yang material dan yang ruhaniah berlangsung juga di masa Yunani Kuno. Memang, Thales dan kawan-kawan telah menunjuk benda-benda material sebagai fokus perhatiannya, namun itupun bukan dalam artian materi empirik. Baru pada filsuf-filsuf muslim seperti Ibn Sina-lah konsep benda dalam arti material mulai mendapat tempat. Gebrakan kajian benda dalam arti materi baru dimulai dengan Newton dan Gallileo.
Kita kembali ke Schumacher. Bagi dia, dalam “dunia benda” tidak terdapat kedirian. Di sini sepenuhnya pasif. Gerak dan perubahan hanya dimungkinkan ketika ada sesuatu yang lain yang menggerakan atau merubahnya. Sebuah bola menggelinding hanya karena ada sesuatu di luar dirinya yang menggerakannya, misalnya, sebuah kaki. Sebuah kayu gelondongan hanya bisa menjadi sebuah meja karena ada seorang tukang yang membuatnya. Bahkan, dalam benda yang super-canggih seperti mesin otomatis pun hanya berpungsi ketika ada seorang ahli yang menciptakan dan memprogramnya. Singkatnya, sebuah benda tergantung dari lingkungannya, terikat oleh lingkungan.
2. Tumbuhan
Eksistensi tumbuhan bergerak lebih maju dari eksistensi benda. Di sini unsur kedirian mulai muncul, meski hanya dalam arti yang sangat sederhana. Sebuah pohon bisa mengelola energi yang ada dalam tanah dan energi dalam matahari menjadi berguna untuk dirinya. Akan tetapi, kedirian masih terikat oleh lingkungan.
Schumacher menyebut sesuatu yang membedakan sekaligus membuat dunia tumbuhan lebih tinggi dari dunia benda adalah hidup. Ketika unsur hidup pada tumbuhan ini hilang, maka seketika ia berubah menjadi benda. Artinya, ketika hidup dilepaskan dari sebuah pohon cemara, maka ke-pohon-an lenyap, dan berganti menjadi sebuah kayu belaka. Jadi, sebuah pohon bisa melepaskan dirinya dari status ke-benda-an ketika dia memiliki unsur hidup.
3. Hewan
Bergerak lebih jauh dari eksistensi tumbuhan adalah eksistensi hewan. Di sini, unsur kedirian nampak lebih mapan, meski tidak sepenuhnya. Seekor anjing bisa mengonggong keriangan ketika tuannya datang membawa bungkusan yang berisi daging untuknya. Atau, seekor induk ayam bisa mondar-mandir untuk mencari anaknya. Meski masih belum mampu melepaskan diri dari lingkungannya, tapi unsur kedirian telah lebih mapan dibanding tumbuhan.
Dengan demikian, jelaslah bahwa hewan memiliki kemampuan yang lebih dari tumbuhan, dan Schumacher menyebutnya sebagai kesadaran. Untuk membuktikan adanya unsur kesadaran pada eksistensi hewan, kita bisa memukulnya hingga pingsan; kesadaran hilang, tapi unsur hidup masih ada. Melalui kesadarannya, seekor hewan bisa mengklasifikasikan, meski secara sederhana dan terbatas, mana yang cocok dengan dirinya dan mana yang tidak cocok dengan dirinya. Seekor kera akan lebih memilih buah pisang dibanding sebuah cek bernilai satu milyar.
4. Manusia
Kini kita membahas puncak segala eksistensi di dunia; manusia. Di sini, kemungkinan kedirian hadir secara penuh. Seseorang bisa membayangkan, melihat, menyimpulkan, bahkan memperbaiki dirinya. Saya bisa merasakan bahwa saya sedang jatuh cinta pada seseorang; saya bisa memikirkan bahwa yang terbaik buat saya adalah kuliah di Paramadina; dan sebagainya. Dengan kata lain, saya bisa sekaligus menyatu dan berjarak dengan diri sendiri; saya menguasai diri.
Apa yang membuat manusia lebih dari eksitensi yang lain? Beragam jawaban muncul dalam sejarah filsafat. Schumacher sendiri menyebutnya sebagai kesadaran-diri. Artinya, manusia tidak hanya memiliki kesadaran, sebagaimana hewan, melainkan juga bisa sadar akan kesadarannya. Dia tidak hanya bisa berpikir, tapi bisa memikirkan pikirannya. Melalui kesadaran-diri inilah peradaban muncul. Berkat kesadaran-diri, makan tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan fisik belaka, melainkan diberi nilai atasnya; misalnya, nilai enak-tidak enak, berkelas atau tidak, sehat atau tidak, dan seterusnya.
-**-
Demikian eksistensi-eksistensi yang menyusun realitas. Pertanyaannya, apa gunanya kita mengetahui keempat eksistensi tersebut? Pertama, dengan mengetahui itu semua, kita bisa memposisikan keberadaan kita. Jika kedasaran-diri itu hilang, maka apakah yang membedakan kita dari hewan (sebagaimana tidak berartinya ke-hewan-an ketika kesadaran hilang, atau tidak berartinya ke-pohon-an ketika hidup dilepaskan darinya)? Kedua, keterbukaan kepada yang lebih baik adalah kemutlakan bagi manusia. Kesadaran-diri dapat mengevaluasi sudah sebaik apakah diri kita ini. Jika kita tidak mau lagi mengevaluasi diri kita, maka masih pantaskah kita disebut manusia? Ketiga, kecenderungan sains modern yang materialis-positivis akan banyak menemui jalan buntu. Karena hidup, kesadaran, dan kesadaran-diri berada jauh dari sekedar apa yang nampak secara inderawi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar